Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-2)
![]() |
| Dr. KH. ABDUL GHOFUR, MZ. Lc. M.SI |
Tidak tahu
persis, kapan awal mula Ahmadiyah masuk Indonesia. Akan tetapi ia mulai
dikenal di Indonesia pada tahun 1924 ketika dua pendakwah Ahmadiyah
Lahore datang ke Jogja. Pada kesempatan ini mereka berdua diundang oleh
Minhadjurrahman Djojosoegito, Sekretaris Muhammadiyah dalam Muktamar
Muhammadiyah ke-13. Di kemudian hari, ia ketahuan telah masuk kedalam
ajaran Ahmadiyah Lahore. Lalu dikeluarkan dari Muhammadiyah. Pada tahun
1930 ia mendirikan secara resmi Gerakan Ahmadiyah (GIA) dan duduk
sebagai puncak kepemimpinan.
Ahmadiyah Lahore
sendiri lahir setelah kematian khalifah AI-Masih yang pertama, Almulawi
Nuruddin, pada 13 Maret 1914. Menurut kelompok ini, MGA tidak
membutuhkan khalifah perorangan. Cukup Anjuman -lembaga yang didirikan
oleh MGA mula-mula untuk mengawasi keuangan dan maqbarah Bahishti di
Qadiyan yang diperuntukkan bagi para pejuang Ahmdiyah- sebagai estafet
penerus kepemimpinan dakwah.
Ketika Khalifah kedua, Basyiruddin Mahmud Ahmad, terpilih, mereka, dipimpin oleh Mulawi Muhammad Aly, tidak setuju. Lalu mereka keluar dari Qadiyian. pindah ke Lahore, dan mendirikan Anjuman tandingan. Sejak saat itulah kedua kelompok ini terputus, dan masing-masing saling mengklaim paling benar. Bahkan ortodoksi Qadiyan lazim menyebut Lahore sebagai kelompok sempaian yang sesat.
Ada
sejumlah revisi versi Lahore terhadap tradisi keimanan Qadiyan. Selain
doktrin khilafah yang menjadi pemicu perpecahan, adalah doktrin kenabian
MGA. Bagi Lahore, kenabian telah berakhir, walau pewahyuan itu sendiri
tidak pernah berhenti. Menurut mereka, jika kenabian masih ada, Sayidina
Ali tentulah sudah menjadi nabi. Karena dalam sebuah hadits, kedudukan
Sayidina Ali sama dengan
kedudukan Nabi Harun bagi Nabi Musa. Akan tetapi kenabian telah berakhir, dan Sayidina Ali tidak pernah menyandang kenabian.
Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini. pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus dishalati. Selama-tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.
Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini. pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus dishalati. Selama-tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.
Kehadiran
mereka di Jogja walau menimbulkan riak, akan tetapi tidak sampai kepada
gelombang yang besar. Buku-buku terbitan Ahmadiyah Lahore bahkan banyak
dinikmati oleh mendiang Bung Karno, dan. HOS Tjokroaminoto, karena
kerasionalannya. Juga sejumlah mahasiswanya bergabung dengan HMI.
Adapun Ahmadiyah
Qadiyan, kehadirannya ke Indonesia murni misi messiah sebagai penerus
Imam Mahdi MGA. Adalah Maulana Rahmat Ali orang pertame yang datang ke
Indonesia melalui Aceh pada tahun 1925. la datang ke Sumatra atas
rekomendasi tiga pelajar Thawalib di Qadiyan. Tiga pelajar ini awal mula
merencanakan melanjutkan studi ke Mesir, akan tetapi guru-gurunya di
Thawaiib. Padang, menyarankannya untuk pergi ke India. Di India mereka
mula-mula mengenal Ahmadiyah Lahore, yang kemudian mengantarkannya
kepada
ortodoksi Ahmadiyah di Qadian.
Ketiga
pelajar inilah sejatinya yang melapangkan jalan bagi masuknya Ahmadiyah
dengan agak mulus ke Indonesia. Mereka banyak berkorespondensi kepada
keluarganya tentang datangnya Imam Mahdi, dan mengharap agar masyarakat
di sana kelak menyambut dengan hangat utusan Imam Mahdi. Dan benar,
ketika Maulana Rahmat Ali datang ke Tapaktuan. Aceh, ia disambut hangat
oleh masyarakat.
la mulai berdakwah di Aceh, lalu meluaskan
dakwahnya ke Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan daerah sekitar.
Dan pada tahun 1931 ia pergi ke Jakarta.
5. Dalam sejarahnya, Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada 1924 dan 1925 Artinya ajaran itu sudah lama masuk dan menyebar di Indonesia. Lalu mengapa penentangan terhadap aliran itu baru muncul belakangan?
Benar tapi bukan tanpa perlawanan dari ortodoksi Islam Sunny. Pada tahun 1926 Haji Rasul mendebat 'Ahmad Baiq, pendakwah Ahmadiyah Lahore. Dan pada tahun 1929 Muktamar Muhammadiyah resmi melarang Ahmadiyah diajarkan di lingkukan Muhammadiyah. Bahkan Muhammadiyah telah resmi mengkafirkan mereka yang percaya adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Di Padang perdebatan-perdebatan Ahmadiyah-Sunny marak sejak menit-menit awal pendakwahan Ahmadiyah. Dan ketika Rahmat Ali datang ke Jakarta, Ahmad Hassan, pimpinan PERSIS, rajin mendebat Ahmadiyah, hingga terjadi dialog, atau debat terbuka, dengan menyedot banyak pengunjung.
Persolana Ahmadiyah kemudian menjadi terlupakan karena Indonesia secara umum disibukkan oleh perang kemerdekaan, perang revolusi dan pemberontakan PKI. Ahmadiyah benar-benar terlupakan, dan baru muncul kembali pada tahun 1980-an ketika Indonesia relative tenang. Saat itu, entah siapa yang kembali mengangkat isu Ahmadiyah, hingga MUI mengeluarksn fatwa sesatnya Ahmadiyah yang terkenal itu.
6. Saya dengar dan baca dari beberapa artikel bahwa pada tahun 1928, tokoh Muhammadiyah Raden Ngabehi HM. Djojosoegito, saudara sepupu dari Hasyim Asy'ari -kakek Abdurrahman Wahid (Gus Dur)- dan Wahab Chasballah, mendirikan Ahmadiyah Indonesia. Hasyim Asy'ari dan Wahab Chasbullah yang juga bersaudara sepupu adalah pendiri NU (NandlatuI Ulama) tahun 1926, apa itu benar?
Saya kira ini hanya kebetulan saja. Tidak
memiliki arti yang penting. Kebetulan Kiyai Hasyim adalah seorang Raden,
keturunan Hamengkubuwono II. Djojosoegito juga raden dari keturunan
yang sama. Lebih tepat sebetulnya menyandingkan Ahmad Dahlan, pendiri
Muhammadiyah dengan Hasyim Asy'ari pendiri NU Keduanya sama-sama belajar
di Mekkah. Keduanya murid Al-Khatib AI-Minangkabawy, seorang ulama bumi
pertiwi yang berkarir di Saudi hingga menjadi imam Masjidil Haram
madzhab Syafi'iy. Khathib Minangkabaw adalah seorang tradisionalis, tapi
sekaligus pengagum Muhammad Abduh, pembaharu paling berpengaruh saat
itu. Ahmad Dahlan tampaknya lebih meresap. titisan Muhammad Abduh dalam
diri AI-Khatib, sementara Hasyim Ashari lebih meresapi tradisinya. Tapi
jelas keduanya memiliki guru yang sama dan ini berpengaruh kepada sikap
toleransi keduanya.
7. Apakah benar kalau sebenarnya tokoh-tokoh NU, Muhammadiyah, Sl, dan Ahmadiyah berasal dari rumpun keluarga yang sama?
Kalau ditilik dari para pendiri utamanya, ya ada benarnya. Semuanya tidak keluar dari Solo-Jogja, dan semua di lingkungan keraton, dua kerajaan terakhir Jawa. Tapi dari keseluruhan para tokohnya. saya kira tidak demikian. Di lingkungan NU sendiri, sebetulnya yang paling aktif pada masa-masa awal adalah kiyai Wahab Hasbullah, tapi untuk mendirikan NU, dibutuhkan tokoh Kharismatik yang sangat disegani, dan figur ini ada pada Kiyai Hasyim.
8. Saya dengar bahwa terjadi pro-kontra dalam tubuh NU terhadap masalah Ahmadiyah ini, bagaimana pandangan bapak terhadap masalah ini? Dan pendapat manakah menurut bapak yang seharusnya kita ikuti?
Benar, di NU terjadi pro-kontra, karena
isinya juga macam-macam. Sejak tahun 1984, Gus Dur memimpin NU dan
berlangsung selama tiga periode, masa kepemimpinan yang cukup lama.
Sejak saat itu, Gus Dur rajin menggarap para pelajar progresif NU.
Sekarang ini, anak didik Gus Dur sudah merasuk kemana-mana. Bahkan
pemimpin sejumlah pesantren mambu-mambu sebagai pengikutnya. Tapi secara
resmi PBNU dan juga PWNU Jatim, basis utama NU, menganggap sesat
Ahmadiyah. Yang perlu.diketahui juga, dalam bahtsul masail PBNU
terakhir, yang menyesatkan Ahmadiyah, pimpinan sidangnya adalah Kiyai
Ma'ruf Amin, Dr. Said Aqiel Siraj, dan Pak Masdar Masudi. Kiyai Makruf
mewakili kelompok kiyai Faqih yang lurus, yang sering juga menjadi juru
bicara MUI. Sementara Said Aqil dan Masdar adalah dua kiyai yang
sebetulnya lebih dekat kepada Gus Dur. Tori keputusannya tetap
menganggap Ahmadiyah sesat, dan menyerahkan sepenuhnya permasalah ini
kepada pemerintah.
Ini artinya dalam tubuh NU hampir terjadi
kesepakatan soal ketidak cocokan diametral antara faham NU dengan
Ahmadiyah. Tapi permasalahan utama adalah soal cara menyikapi Ahmadiyah
dalam kehidupan berbangsa. Di sinilah kelompok Gus Durian bersikap tegas
: Tegakkan Pancasila. Kalau Gus Dur sendiri jangan ditanya soal akidah,
karena akidanya susah ditebak. He he .....3x. Jangankan di luar NU, di
tubuh NU sendiri banyak yang dibuat bingung oleh sikap-sikapnya.
Dilingkungan NU Mesir sendiri, terjadi
perdebatan yang panjang soal ini. dalam dua kali Bahtsul Masail. Dan
keputusan tenkhir, tetap menganggap Ahmadiyah menyimpang dari faham
Ahlussunnah wal Jamaah yang diikuti oleh Nahdiiyin, dan Muslim Indonesia
secara luas. Tapi ketika pada pembahasan apakah mereka sampai keluar
dari Islam, di sini tidak ada kata sepakat. Mungkin memang harus
demikian. Biarkan macem-macem isinya.
9. Apa pendapat dan tonggapan bapak tentang SKB 3 Menteri yang berkenaan dengan Ahmadiyah yang ditandatangani oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji, Mendagri Mardiyanto dan Menteri Agama Maftuh Basyuni yang dirilis di Departemen Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin 9 Juni 2008 tersebut?
Secara pribadi saya tidak berani melarang seseorang menafsirkan agama sesuai keyakinan masing-masing tapi memang tak perlulah menyebarkannya kepada orang yang berbeda keyakinan secara deametral, seperti Qadiyan dan Islam Indonesia secara umum. Saya ingin membandingkan misalnya Syiah di Saudi Arabiya dan Sunni di Iran. Populasi Syiah di Arab Saudi mencapai 20 persen, sesuai laporan The Arabic Network for Human Right. Akan tetapi terjadi diskriminasi cukup besar atas hak-hak beribadah, dan hak-hak sipil mereka. Begitu pula sebaliknya Sunni di Iran. Menurut laporan Irania Sunni Leage, populasi mereka di lian mencapa sepertiga penduduk secara keseluruhan, atau sekitar 15 sampai 20 juta. Namun begitu, di Taheran, ibu kota Iran, satu masjid pun mereka tak punya. Padahal gereja Kristen, Sinagog Yahudi, rumah ibadah Majusi dan Hindupun boieh berdiri. Jadi harus ada kesadaran pada masing-masing, bahwa keyakinan yang dianut, ternyata bagi orang lain bisa menyakitkan. Klaim Jemaat Ahmadiyah yang mengkafirkan non-Ahmadi bagi banyak kalangan tentu menyakitkan. Posisi pemerintah yang melarang pengajaran Ahmadiyah ke non-Ahmadi saya kira bisa dibenarkan.
Mungkin harus diketahui ya, SKB tiga menteri secara definitif menunjuk kepada Jemaat Islam Ahmadiyah (JIA) atau Ahmadiyah Qadian, yang berpusat di Parung, Bogor, bukan Gerakan Isiam Ahmadiyah (GIA) atau Ahmadiyah Lahore, yang berpusat di Jogja.
10. Apakah menurut bapak Ahmadiyah itu perlu dibubarkan? Atau hanya cukup dengan pelarangan penyebarannya saja?
Cukuplah dilarang penyebarannya. Saya
melihat, bahwa aliran-aliran yang dilarang. justru akan semakin militan,
karena tidak mempunyai kesempatan untuk berbenah, dan sibuk memuja
diri. Yang diperlukan adalah kritik terus menerus kepada Ahmadiyah
Qadian. agar membuka pintu kebenaran bagi yang lain.
Sikapnya yang tidak mau menshalati jenazah
non-Ahmadi misalnya, adalah bentuk doktrin yang tak perlu diteruskan. Di
sini, Ah-nadiyah Lahore sudah bergerak ke sana. Beri kesempatan kepada
masing-masing sekte, untuk melakukan kritik dan dikritik.
11. Bagimana seharusnya -menurut bapak- bangsa Indonesia terutama warga NU bersikap dalam menanggapi masalah Aliran Ahmadiyah ini?
Kembali kepada umat. Jangan terlalu sibuk dengan rebutan politik. Instropeksi, dan berbenah diri. Saya melihat para pemimpin kita sibuk pada wilayat potitik, tapi umat kurang diperhatikan Ketika umat kita tiba-tiba direbut orang lain, kita menyalahkan yang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar