HIKAM HIKMAH 1 Oleh; KH. WAFI MZ
HIKAM IBNU ATHA'ILLAH AS-SAKANDARY
HIKMAH 1 :
Tidak Mengandalkan Amal dan Alamatnya
KH. Muhammad Wafi, Lc
KH. Muhammad Wafi, Lc
من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
"Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah SWT ketika berbuat kesalahan"
1. Penjelasan
Berpegang pada amal (mengandalkan
amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita :
“Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan
lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang
Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan
anugrah-Nya.
Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan Al-Laqqoni di dalam kitab Jauharotul Al- Tauhid :
وان يعذب فبمحض العدل فإن يثبنا فبمحض الفضل
Artinya :
Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.
Ini adalah salah satu konsep aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagaimana aqidah ulama-ulama salaf.Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.
Kesalahan tersebut muncul ketika dia mengatakan bahwa surga bisa diperoleh dengan amal ibadah. Maka maknanya, Allah telah menentukan harga surga bukan dengan dinar atau dirham, melainkan dengan taat beribadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan konsekwensinya ketika dia telah menyerahkan ibadah sebagai harga, maka dia telah memiliki surga dan berhak mengeluarkan penjualnya (Allah) seperti halnya hubungan antara penjual dan pembeli.
Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. Ingatlah ketika Allah SWT memerintah kita untuk beribadah dan melarang dari maksiat serta memberi taufiq dan hidayah kepada kita sehingga kita bisa beribadah. Siapakah Dzat yang telah memberi kita kekuatan untuk shalat dan puasa? Siapakah Dzat yang telah memberikan kelapangan dada untuk beriman?. Jawabannya tidak lain adalah hanya Allah SWT semata.
2. Dalil
a. Firman Allah dalam surat Al-Hujurat : 17 :
Artinya :
Mereka
merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka.
Katakanlah “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan
keislamanmu, sebenarnya Allah Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu
dengan menunjuk kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang
beriman”. (QS. Al-Hujurat : 17)
Jadi sangat tidak pantas sekali ketika seseorang mengatakan bahwa ibadah adalah harga untuk membeli surga Allah SWT.
Oleh karena itu, jangan sampai
terbesit sedikit pun dalam hati kita bahwa kita berhak memperoleh surga
dan pahala sebab telah melakukan kewajiban-kewajiban yang dibebankan
Allah SWT dan telah menjauhi larangan-larangan-Nya, karena bila kita
meyakini hal tersebut, maka itu merupakan salah satu bentuk dari
kemusyrikan.
Hubungan antara manusia dan
Tuhannya tidak bisa disamakan dengan hubungan antar sesama manusia
sebab Allah SWT adalah Dzat yang menciptakan manusia dan segala apa
yang dia lakukan, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW
kepada ummatnya.
لا حولا ولا قوّة إلا بالله
Artinya :
Tidak ada daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat kecuali Allah.
Ketika kita memuji Allah dengan
mulut kita, maka kita wajib bersyukur kepada Allah karena dia telah
menggerakkan mulut untuk memuji-Nya, ketika kita melakukan shalat
tahajjud, maka wajib bagi kita untuk bersyukur karena Allah telah
memberikan taufiq-Nya, dan seandainya bukan karena rahmat, inayah dan
hidayah-Nya, maka kita pasti masih tenggelam dalam lelap tidur.
Dari penjelasan-penjelasan di
atas terkadang timbul pertanyaan mengenai makna firman Allah yang
terdapat di dalam surat An-Nahl : 32
...ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [النحل/32]
Masuklah kamu ke dalam surga itu di sebabkan apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl :32)
Bila dilihat dari dhahirnya,
seolah-olah ayat di atas memberi kesan bahwa masuk surga itu disebabkan
oleh amal seseorang, apakah memang demikian?, jawabannya adalah tidak,
karena kalam tersebut hanya berasal dari satu pihak yaitu Allah SWT,
bukan dari dua pihak yang sedang melakukan akad. Pertama kali Allah
memberi kita taufiq sehingga kita bisa beramal shalih dan melakukan
kebaikan. Setelah itu Allah SWT berfirman :
Artinya :
…Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 32)
…Masuklah kedalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan. (QS. An-Nahl : 32)
Maka kesimpulannya, masuk surga
bukanlah sebab amal kita tetapi murni dari anugrah dan ihsan Allah SWT.
Dan bila perasaan tersebut (masuk surga karena amal sholih) sulit
dihilangkan, maka kita harus memahami makna ubudiyyah kepada Allah SWT
dan kita juga harus ingat bahwa kita sangat butuh pada pertolongan dan
inayah Allah SWT.
b. Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari ra. :
Artinya :
Salah
satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para
Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW
menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah meliputi rahmat-Nya
kepadaku”.
Jadi amal ibadah bukanlah harta
yang bisa untuk membeli surga. Oleh karena itu yang dituntut dari
seseorang yang diberi hidayah Allah SWT ketika dia mampu melakukan
ibadah adalah merasa bahwa dia bisa mendapatkan ridla Allah SWT karena
anugrah dan rahmat-Nya, bukan karena amal ibadah yang dia lakukan.
3. Aplikasi
a. Contoh
Sebuah perumpamaan yang bisa menggambarkan penjelasan di atas adalah kejadian sebagai berikut :
Ada
seorang ayah yang ingin melatih amal kebaikan kepada anaknya. sang
ayah pun berkata kepada anaknya : "Bila kamu bershadaqah kepada orang
miskin, maka aku akan memberimu hadiah". Setelah itu sang ayah
meletakkan sejumlah uang di dalam saku sang anak tanpa sepengetahuannya,
lalu sang anak merenungkan perkataan ayahnya. Kemudian sang anak
bershadaqah dengan uang tersebut kepada orang miskin. Sehingga sang ayah
gembira melihat hal tersebut karena sang anak bisa melakukan kebaikan.
Lalu dia pun memberi hadiah kepada anaknya.
Dari perumpamaan tersebut tidak
bisa diragukan lagi bahwa uang yang di gunakan shadaqah adalah milik
sang ayah. Sedangkan pemberian hadiah kepada sang anak walaupun secara
dhahirnya dinamakan imbalan (jaza’), namun pada hakikatnya pemberian
hadiah tersebut karena sang ayah sayang dan mendorongnya untuk melakukan
amal sosial.
Diceritakan bahwa ada sebagian
ulama’ ketika tidur bermimpi bertemu dengan salah satu waliyullah yang
sudah wafat. Di dalam mimpinya dia bertanya kepada wali tersebut “Apa
yang Allah lakukan kepadamu?”, wali tadi menjawab : ”Aku dihadapkan
kepada Allah SWT dan Allah bertanya kepadaku : ”Dengan apa engkau
datang kesini?”, lalu aku menjawab : “Ya Rabbi, saya adalah seorang
hamba sahaya (budak), sedangkan hamba itu tidak memiliki apa-apa yang
bisa diberikan. Aku datang kepada-Mu dengan penuh harapan mendapat
ampunan dan rahmat-Mu”.
Jawaban yang disampaikan wali tersebut merupakan salah satu bentuk ubudiyyah yang bisa difaham dari hadist Abi Hurairah :
لن يدخل أحدكم الجنة عمله قالوا ولا أنت يا رسول الله قال : "ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة
".
Artinya :
Salah satu diantara kalian amalnya tidak akan memasukkannya ke surga. Para Shahabat bertanya : Dan bukan engkau ya Rasulullah?. Rasulullah SAW menjawab : “Dan bukan aku, hanya saja Allah memberikan rahmat-Nya kepadaku”.
Ibarat yang digunakan Rasulullah di dalam hadist di atas adalah عمله dan tidak menggunakan kata بعمله , karena seandainya Rasulullah menggunakan kalimat بعمله , maka akan bertentangan dengan ayat :
Hadist tersebut juga mengandung
makna bahwa berpegang pada amal tanpa mengharapkan ampunan dan rahmat
dari Allah SWT, bisa menyebabkan kerugian dan tidak akan mencapai
impian-impian yang dicita-citakan. Hal ini di disebabkan Allah telah
menjadikan amal yang sangat rendah dan kurang sebagai jalan untuk
memperoleh ampunan dan rahmat-Nya seperti di dalam ayat :
Lihatlah ketika ada orang bershadaqah kepada fakir miskin, maka kamu akan mengetahui betapa berat rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karena pada hakikatnya harta yang dia shadaqahkan adalah milik Allah SWT.
Di dalam surat An-Nur : 33 dijelaskan :
Artinya :
Dia berikan kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.(QS. An-Nur : 33)
Kemudian Allah mengkhitabi manusia di dalam surat Al-Baqarah :240 :
مَنْ
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ (245)Dia berikan kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.(QS. An-Nur : 33)
Kemudian Allah mengkhitabi manusia di dalam surat Al-Baqarah :240 :
Artinya :
Siapakah
yang mau memberi pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan
lipat ganda yang banyak. (QS. Al-Baqarah : 245)
Di dalam ayat di atas Allah
menempatkan Dzat-Nya seolah-olah sebagai orang yang berhutang kepada
manusia yang bershadaqah dan Allah akan memberi balasan yang berlipat
atas shadaqahnya.
Bila kita menyangka bahkan yakin bahwa Allah berhutang, sehingga kita bisa menuntut pahala ketika sudah bershadaqah, maka berarti kita telah mabuk dan gila, karena kita lupa bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah SWT.
Terkadang timbul pertanyaan
apakah ada pertentangan antara Allah memasukkan manusia dengan
rahmat-Nya dan Allah memerintah manusia untuk beribadah? .
Jawabannya adalah tidak. Ibadah
merupakan hak Allah yang wajib dilakukan manusia sebagai pembuktian
bahwa dia adalah hamba Allah. Sedangkan surga adalah karunia Allah
sebagai bukti sifat-sifat rahmat-Nya dan Allah telah memutuskan bahwa
orang yang paling berhak mendapat rahmat adalah yang paling banyak
melakukan kewajiban-kewajiban. Di dalam surat Al-A’raf : 156, dijelaskan
:
...وَرَحْمَتِي
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ
وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ
[الأعراف/156]
Artinya :
Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)b. Alamat I'timad Pada Amal
Kurang percaya terhadap rahmat
Allah SWT termasuk mengandalkan amal. Adapun cara menghilangkannya
adalah dengan tidak mengandalkan pada suatu amal dan selalu mengharap
rahmat dan ampunan Allah SWT serta takut akan siksa dan adzab-Nya
ketika melakukan kesalahan. Sehingga ketika seseorang merasa tidak
memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah dan kewajiban yang sangat
banyak maka akan timbul dua perasaan, yaitu perasaan mengharap ampunan
dan rahmat Allah SWT dan perasaan malu dan takut di sisi Allah SWT.
Terkadang syetan akan menghasut
manusia bahwa ibadah dan takut itu tidak berperan dalam memperoleh
rahmat Allah sehingga tidak ada perbedaan antara melakukan ibadah dan
meniggalkannya (melakukan maksiat).
Hasutan ini tidak boleh di turuti. Karena dalam ayat :
ternyata Allah menggunakan kalimat لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ (Bagi orang-orang bertaqwa) Dan tidak menggunakan kalimat ِللنَّاِس (semua manusia).
Ayat ini juga mengandung dua hal yang saling talazum (bergantung dan mengisi), yaitu:
1) Seseorang harus berjalan di jalan yang benar dengan melakukan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
2) Seseorang harus mengerti bahwa surga dan pahala itu diperoleh dengan rahmat dan ampunan Allah, bukan dengan amal ibadah.Dua hal ini juga terkandung di dalam surat Thaha : 82 :
Artinya :
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)
Dari ayat di atas bisa difahami bahwa iman dan amal shalih adalah hal yang wajib, sedangkan pahala itu diperoleh dari ampunan dan rahmat Allah SWT.
Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal shalih, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha : 82)
Dari ayat di atas bisa difahami bahwa iman dan amal shalih adalah hal yang wajib, sedangkan pahala itu diperoleh dari ampunan dan rahmat Allah SWT.
Mungkin di dalam hati kita
timbul sebuah pertanyaan : Allah telah menakut-nakuti orang yang
berdosa dan berbuat maksiat dengan siksa-siksa-Nya, lalu bagaimana
mungkin orang yang berbuat dosa tidak berkurang harapannya terhadap
ampunan dan rahmat Allah? padahal Allah juga mensyaratkan iman dan
takwa untuk memperoleh rahmat-Nya. Seperti pada surat Al-A'raf ayat 156
:
Artinya :
Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)
Jawabannya adalah orang yang berbuat maksiat harus bertaubat karena dia tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya kecuali dengan bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.
Bila dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka harapan terhadap rahmat Allah akan selalu bertambah dan Allah pasti akan menerima taubatnya, Allah SWT berfirman di dalam surat At-Taubah : 104 :
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ
التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ
هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [التوبة/104]Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-A’raf : 156)
Jawabannya adalah orang yang berbuat maksiat harus bertaubat karena dia tidak mungkin bisa menghadap Allah dengan mengharapkan rahmat-Nya kecuali dengan bertaubat dan menyesali dosa-dosanya.
Bila dia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh maka harapan terhadap rahmat Allah akan selalu bertambah dan Allah pasti akan menerima taubatnya, Allah SWT berfirman di dalam surat At-Taubah : 104 :
Artinya :
Tidaklah mereka
mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan
menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha
Penyayang. (QS. At-Taubah : 104)Demikian pula di dalam hadist qudsi di terangkan :
اذ
نب عبد ذنبا فقال : اللهم اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي
ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب
اغفرلي ذنبي فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر
الذنب ويأخذ بالذنب ثم عاد فأذنب ثم عاد فأذنب فقال اي رب اغفرلي ذنبي
فقال الله تبارك وتعالى اذنب عبدي ذنبا فعلم ان له ربا يغفر الذنب ويأخذ
بالذنب قد غفرت لعبدي فليفعل ما شاء.(الحديث)
Artinya :
Ada
seseorang melakukan dosa lalu dia berdo’a : Ya Allah ampunilah dosaku.
Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia mengerti
bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa sebab
melakukan dosa. Kemudian sang hamba kembali melakukan dosa, lalu dia
berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku
telah melakukan dosa lalu dia mengerti bahwa dia memiliki Tuhan yang
mengampuni dosa dan menyiksa sebab melakukan dosa. Kemudian sang hamba
kembali melakukan dosa, lalu dia berdo’a : Ya Tuhanku, ampunilah
dosaku. Lalu Allah berkata : Hambaku telah melakukan dosa lalu dia
mengerti bahwa dia memilik Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa
sebab melakukan dosa. Sungguh aku telah mengampui hambaku, maka
hendaknya dia berbuat apa yang dia mau.
Hal tersebut bisa
divisualisasikan dengan keadaan seseorang yang sudah tua yang selalu
melakukan ibadah dan memperbanyaknya sampai-sampai dia merasa bahwa
dengan ibadah yang banyak dia akan memperoleh pahala yang banyak dan
pasti termasuk penghuni surga.
Adapun cara menjauhinya adalah
dengan mengetahui bahwa hak-hak Allah SWT yang wajib dilakukan hambanya
tidak bisa dipenuhi dengan banyak atau sedikitnya taat. Seandainya hak
tersebut bisa dipenuhi dengan taat, maka orang yang paling utama
melakukan hal tersebut adalah para Nabi dan Rasul. Tetapi tidak ada satu
pun Nabi dan Rasul yang menghubungkan harapan rahmat Allah dan
ampunan-Nya dengan taat dan ibadah mereka, namun mereka selalu
mengharapkan ampunan Allah SWT.
Contohnya adalah Nabi Ibrahim, beliau
merasa di bawah derajat orang-orang yang shalih dan selalu meminta
kepada Allah agar dipertemukan dengan orang-orang yang shalih.
Di dalam Al-Qur’an di jelaskan :
Artinya :
(Ibrahim berdo’a), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. (QS. Syu’ara’ : 83)
Dan beliau selalu mengharapkan ampunan dari Allah SWT seperti yang diterangkan di dalam surat Ibrahim : 41.
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ (إبراهيم/41(Ibrahim berdo’a), Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. (QS. Syu’ara’ : 83)
Dan beliau selalu mengharapkan ampunan dari Allah SWT seperti yang diterangkan di dalam surat Ibrahim : 41.
Artinya :
Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada terjadinya hisab (Hari Kiamat). (QS. Ibrahim:41)
Demikian pula Nabi Yusuf, beliau merasa jauh untuk sampai pada
derajat shalihin dan beliau selalu meminta Allah agar dipertemukan
dengan orang-orang shalih.Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada terjadinya hisab (Hari Kiamat). (QS. Ibrahim:41)
رَبِّ قَدْ آَتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ [يوسف/101]
Artinya :
Ya
Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugrahkan kepadaku sebagian
kerajaan dan telah mengerjakan kepadaku sebagian ta’bir mimpi. (Ya
Tuhanku) pencipta langit dan bumi. Engkaulah pelindungku di dunia dan
di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan kumpulkanlah aku
dengan orang-orang shalih.(QS. Yusuf:101)
Begitu pula baginda Nabi Muhammad SAW, seperti yang dijelaskan di dalam hadist.
...ولا اتا الا ان يتغامدني الله برحمته
Jadi amal ibadah yang dilakukan manusia hanyalah bayaran yang sangat kecil akan kewajiban mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung. Maka bagaimana mungkin hal itu bisa dijadikan imbalan (ganti) untuk masuk surga?.
Seseorang setelah mengetahui dan mengerti bahwa dia adalah hamba yang di miliki Allah, maka dia wajib untuk menyembah Allah, baik akan diberi pahala atas ibadahnya atau pun tidak. Kemudian dia harus meminta surga kepada Allah dengan rahmat-Nya dan ihsan-Nya, serta meminta perlindungan dari api neraka dengan kelembutan dan ampunan-Nya.
Seandainya seseorang mengaku bahwa dia menyembah Allah karena mengharapkan surga-Nya, sekiranya jika dia tahu bahwa dia tidak akan memperoleh surga dengan amalnya, lalu dia berhenti beribadah dan tidak mempedulikan hukum (syari’at Allah), maka dia bukanlah orang yang mukmin. Karena dia telah memperlihatkan bahwa dia bukan hamba Allah, melainkan hamba surga.
Dari sini kita mengetahui betapa tingginya ajaran tauhid dalam munajat Rabi’ah Al-Adawiyyah ketika berdo’a. Beliau berdo’a : ”Ya Allah sesungguhnya aku tidak menyembah-Mu ketika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga-Mu dan takut dari neraka-Mu. Tetapi aku mengetahui bahwa Engkau adalah Tuhan yang berhak untuk disembah sehingga aku menyembah-Mu".
Sebagian orang yang dangkal pemikirannya menyangka bahwa Rabi’ah tidak membutuhkan surga yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-Nya yang shalih, sehingga mereka mencela Rabi’ah. Persangkaan ini sangatlah keliru, karena di dalam munajat-munajat yang lain, Rabi’ah meminta surga dan dijauhkan dari neraka. Hanya saja Rabi’ah tidak meminta hal tersebut sebagai upah atas shalat dan ibadah-ibadahnya, melainkan beliau meminta hal tersebut karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Mulia. Sedangakan Rabi’ah adalah orang yang fakir dan mengharap kemurahan Allah SWT.
Ini semua adalah salah satu kunci hidup yang harus dipegang oleh setiap orang islam yakni tidak mengandalkan amal ibadahnya, tetapi yakin atas rahmat dan ampunan dari Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar