SELAMAT DATANG

Minggu, 02 Oktober 2011

  1. TASAWWUF DAN PERADABAN

 
Oleh: KH. Muhammad Wafi MZ. Lc. MSi.

Bila mendengar kata tasawuf seketika yang terbayangkan dibenak penulis adalah sederet nama para Auliya’ Allah, mulai dari Ibnu Athoillah As-Sakandari, Syekh Abul Hasan As-Syadzili, Syekh Ahmad Ar-Rifa’I, Al-Imam Al-Ghozali dan masih banyak lagi nama-nama lain yang merupakan tokoh-tokoh tasawuf yang kita miliki. Disamping itu, penulis juga teringat akan beberapa judul buku yang mengupas tentang tasawuf, mulai dari yang Turots seperti Ihya’nya Al-Imam Al-Ghozali, Hikamnya Ibnu Athoillah dan risalahnya Al-Qusyairi, ataupun yang terbaru, seperti Syarh (kupasan) Hikam yang ditulis Dr. Said Romadlon Al-Buthi dan beberapa buku kecil karya beliau yang membahas tentang tasawuf.
Jika menelaah beberapa literatur yang membahas tentang tasawuf, yang sebagian telah penulis sebut diatas, maka akan banyak kita temukan definisi tentang tasawuf yang biasanya adalah merupakan ungkapan dari para pelaku taSAWuf itu sendiri. Hal ini terjadi karena memang tasawuf adalah thoriqohnya Arbab Al-Ahwal yakni thoriqohnya orang-orang yang berjalan menuju kepada Allah SWT (Salik), bukan thoriqohnya Ahl Al-Aqwal (orang yang menitik beratkan sesuatu pada ucapan). Dan para Salikin dalam melakukan aktifitas kesufiannya tidak hanya mendasarkan pada dalil-dalil yang tertulis (Naqliyyah) ataupun dalil-dalil yang rasional (Aqliyyah) saja, akan tetapi juga dalil yang berupa intuisi (Dzauq)[1]. Sedang antara Dzauq satu orang dan yang lain tentunya berbeda-beda, inilah salah satu penyebab terjadinya perbedaan dalam pendefinisian tasawuf diatas[2].

Sabtu, 01 Oktober 2011

KH MAIMOEN ZUBAIR IN MAROKO ( Mauidhoh Di Universitas Ibnu Tofail UIT )

 

Pimpinan Ponpes Al-Anwar Sarang, KH. Maimoen Zubair menyampaikan masyarakat muslim Indonesia sejak dahulu kala sangat mencintai Maroko secara zohir dan batin dan bahkan mengenal Maroko sejak Ibn Batutah, pengelana muslim termasyhur menginjakkan kaki di Nusantara.

Hal itu disampaikan KH. Maimoen Zubair, dalam ceramahnya di Fakultas Sastra dan Humaniora, Universitas Ibnu Tofail (UIT), Kenitra sekitar 30 km dari Rabat, Maroko, demikian keterangan pers KBRI Rabat dalam keterangannya yang diterima Antara London, Jumat.

Forum yang diadakan KBRI Rabat kerjasama dengan UIT dihadiri Dubes RI untuk Kerajaan Maroko Tosari Widjaja dan Ibu Mahsusoh Ujiati, Rektor UIT Prof. Abderrahmane Tenkoul, Dekan Fakultas Sastra & Humaniora Prof. Dr. Abdelhanine Belhaj, Ketua Program Studi Islam Prof. Dr. Salam Abrich, para staf KBRI Rabat, dosen, mahasiswa dari berbagai fakultas di UIT serta Pehimpunan Pelajar Indonesia di Maroko.

Ulama kharismatis yang akrab disapa dengan panggilan Mbah Maimoen, dengan penuh semangat di usianya yang tidak muda lagi memberikan ceramah yang berjudul "Perkembangan dan Kemajuan Islam di Indonesia".

Dalam ceramah yang menggunakan bahasa Arab, Mbah Maimoen menjelaskan perkembangan Islam di Indonesia sejak awal hingga saat ini serta peran ulama Timur Tengah terutama Maroko dalam menyebarkan dakwah Islam di Indonesia.

HIKAM HIKMAH 1 Oleh; KH. WAFI MZ

 





 HIKAM IBNU ATHA'ILLAH  AS-SAKANDARY

HIKMAH 1 : 
Tidak Mengandalkan Amal dan Alamatnya

KH. Muhammad Wafi, Lc 
 
من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

"Termasuk tanda berpegang pada amal adalah kurang mengharapkan ampunan Allah SWT ketika berbuat kesalahan"

1. Penjelasan
Berpegang pada amal (mengandalkan amal) adalah suatu hal yang tercela. Ibnu Atha’illah menasehati kita : “Takutlah kamu berpegang pada amal seperti shalat, puasa, shadaqah, dan lain-lain untuk mencapai ridla Allah SWT dan memperoleh balasan yang Allah SWT janjikan. Tetapi berpeganglah pada pemberian Allah dan anugrah-Nya.
Al-Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan Al-Laqqoni di dalam kitab Jauharotul Al- Tauhid :

وان يعذب فبمحض العدل              فإن يثبنا فبمحض الفضل
Artinya :
Apabila Allah memberi pahala kepada kita maka itu adalah murni dari anugrah-Nya, dan bila Allah menyiksa kita maka itu adala murni keadilan-Nya.

Ini adalah salah satu konsep aqidah yang harus dimiliki oleh setiap muslim sebagaimana aqidah ulama-ulama salaf.

Terkadang ada orang yang berkata, secara lahir pahala yang berhak dimiliki seseorang adalah karena amal shaleh yang dia lakukan. Namun ketika kita mau berfikir dan merenung tentang hubungan antara hamba dan Tuhannya, maka kita akan mengerti bahwa apa yang diucapkan oleh orang tersebut adalah salah.

Kesalahan tersebut muncul ketika dia mengatakan bahwa surga bisa diperoleh dengan amal ibadah. Maka maknanya, Allah telah menentukan harga surga bukan dengan dinar atau dirham, melainkan dengan taat beribadah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan konsekwensinya ketika dia telah menyerahkan ibadah sebagai harga, maka dia telah memiliki surga dan berhak mengeluarkan penjualnya (Allah) seperti halnya hubungan antara penjual dan pembeli.

Tentunya ini adalah kesalahan yang sangat fatal sekali. Ingatlah ketika Allah SWT memerintah kita untuk beribadah dan melarang dari maksiat serta memberi taufiq dan hidayah kepada kita sehingga kita bisa beribadah. Siapakah Dzat yang telah memberi kita kekuatan untuk shalat dan puasa? Siapakah Dzat yang telah memberikan kelapangan dada untuk beriman?. Jawabannya tidak lain adalah hanya Allah SWT semata.

Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-2)


Dr. KH. ABDUL GHOFUR, MZ. Lc. M.SI
4. Kapan dan bagaimanakah paham dan ajaran Ahmadiyah masuk Indonesia? 

Tidak tahu persis, kapan awal mula Ahmadiyah masuk Indonesia. Akan tetapi ia mulai dikenal di Indonesia pada tahun 1924 ketika dua pendakwah Ahmadiyah Lahore datang ke Jogja. Pada kesempatan ini mereka berdua diundang oleh Minhadjurrahman Djojosoegito, Sekretaris Muhammadiyah dalam Muktamar Muhammadiyah ke-13. Di kemudian hari, ia ketahuan telah masuk kedalam ajaran Ahmadiyah Lahore. Lalu dikeluarkan dari Muhammadiyah. Pada tahun 1930 ia mendirikan secara resmi Gerakan Ahmadiyah (GIA) dan duduk sebagai puncak kepemimpinan.

Ahmadiyah Lahore sendiri lahir setelah kematian khalifah AI-Masih yang pertama, Almulawi Nuruddin, pada 13 Maret 1914. Menurut kelompok ini, MGA tidak membutuhkan khalifah perorangan. Cukup Anjuman -lembaga yang didirikan oleh MGA mula-mula untuk mengawasi keuangan dan maqbarah Bahishti di Qadiyan yang diperuntukkan bagi para pejuang Ahmdiyah- sebagai estafet penerus kepemimpinan dakwah.


Ketika Khalifah kedua, Basyiruddin Mahmud Ahmad, terpilih, mereka, dipimpin oleh Mulawi Muhammad Aly, tidak setuju. Lalu mereka keluar dari Qadiyian. pindah ke Lahore, dan mendirikan Anjuman tandingan. Sejak saat itulah kedua kelompok ini terputus, dan masing-masing saling mengklaim paling benar. Bahkan ortodoksi Qadiyan lazim menyebut Lahore sebagai kelompok sempaian yang sesat.
Ada sejumlah revisi versi Lahore terhadap tradisi keimanan Qadiyan. Selain doktrin khilafah yang menjadi pemicu perpecahan, adalah doktrin kenabian MGA. Bagi Lahore, kenabian telah berakhir, walau pewahyuan itu sendiri tidak pernah berhenti. Menurut mereka, jika kenabian masih ada, Sayidina Ali tentulah sudah menjadi nabi. Karena dalam sebuah hadits, kedudukan Sayidina Ali sama dengan
kedudukan Nabi Harun bagi Nabi Musa. Akan tetapi kenabian telah berakhir, dan Sayidina Ali tidak pernah menyandang kenabian.


Dari konsep kenabian yang hampir mirip dengan konsep Ahlusunnah ini. pewahyuan MGA ditarik lagi ke dalam konsep yang semi internal. Mereka yang tidak percaya terhadap wahyu MGA tidak kafir. Mereka sah menjadi imam bagi non-Ahmadi. Jenazahnya juga harus  dishalati. Selama-tidak mengkafirkan Ahmadi, maka mereka adalah sesaudara.
Kehadiran mereka di Jogja walau menimbulkan riak, akan tetapi tidak sampai kepada gelombang yang besar. Buku-buku terbitan Ahmadiyah Lahore bahkan banyak dinikmati oleh mendiang Bung Karno, dan. HOS Tjokroaminoto, karena kerasionalannya. Juga sejumlah mahasiswanya bergabung dengan HMI.

Adapun Ahmadiyah Qadiyan, kehadirannya ke Indonesia murni misi messiah sebagai penerus Imam Mahdi MGA. Adalah Maulana Rahmat Ali orang pertame yang datang ke Indonesia melalui Aceh pada tahun 1925. la datang ke Sumatra atas rekomendasi tiga pelajar Thawalib di Qadiyan. Tiga pelajar ini awal mula merencanakan melanjutkan studi ke Mesir, akan tetapi guru-gurunya di Thawaiib. Padang, menyarankannya untuk pergi ke India. Di India mereka mula-mula mengenal Ahmadiyah Lahore, yang kemudian mengantarkannya kepada
ortodoksi Ahmadiyah di Qadian.
Ketiga pelajar inilah sejatinya yang melapangkan jalan bagi masuknya Ahmadiyah dengan agak mulus ke Indonesia. Mereka banyak berkorespondensi kepada keluarganya tentang datangnya Imam Mahdi, dan mengharap agar masyarakat di sana kelak menyambut dengan hangat utusan Imam Mahdi. Dan benar, ketika Maulana Rahmat Ali datang ke Tapaktuan. Aceh, ia disambut hangat oleh masyarakat.

la mulai berdakwah di Aceh, lalu meluaskan dakwahnya ke Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan daerah sekitar. Dan pada tahun 1931 ia pergi ke Jakarta.

Quo Vadis AHMADIYAH (Wawancara Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. LC. M.Si) dengan Majalah Sinar (bag-1)

 

Dr. KH. ABDUL GHOFUR MZ. Lc. M.SI
Aliran Ahmadiyah yang sudah menyebar dan merajalela di Nusantara ini membawa berbgai pertanyaan dalam ajarannya, sebenarnya bagaimana Aliran Ahmadiyah tersebut menurut Dr. KH. Abdul Ghofur MZ. Lc. M.Si. Moggo disimak sareng-sareng wawancara yang diadakan oeh majalah Sinar dan wawancara ini menjadi Makalah Talk Show yang diselenggarakan oleh PAC IPNU-IPPNU Kec. Kragan dan Irmas Al-Ishlah Kec. Kragan.
Silakan Simak baik-baik wawancara berikut


1. Menurut bapak apa aliran Ahmadiyah itu?
Ahmadiyah adalah aliran yang menjadikan Mirza ghulam Ahmad sebagai Imam Akbarnya. ghulam lahir di Punjab India, pada tahun 1835, dan mengaku diri mendapat wahyu sebagai nabi pada tahun 1876, saat itu usianya 41 tahun. Ahmadiyah sendiri didirikan tahun 1889, tiga belas tahun kemudian. Ini menyangkut karir pewahyuan.

Pada awal-awal pewahyuan, ia masih ragu. Bahkan ia tidak berani menamakan diri sebagai nabi, hanya muhaddats, atau orang yang diajak bicara oleh Allah SWT. Ia juga tidak berani mengaku diri sebagai Al-Masih. Atau ketika dia mengaku diri nabi, ia menganggap itu sebagai nabi majazan wa isti'aratan atau nabi dalam arti metaforis.

Dan tampaknya pada tahun 1889, ia telah mantap dengan wahyunya, maka mendirikan jamaat Ahmadiyah. Walau sebetulnya kemantapan yang tegas baru terjadi pada kira-kira tahun 1901, dua tahun setelah berdirinya jamaat Ahmadiyah.